Sabtu, 11 Oktober 2014

(Tanpa Sensor) Wanita Itu Telanjang Demi Uang

Malam seperti biasa yang kulihat disudut kota itu.
Lampu Alam tak lagi dihiraukan, kalah terang dan benderangnya semilir lampu mobil dijalanan dan lampu bangunan.
Tidak jauh dari monitor mataku memandang, disana dipinggir jalan yang bagi wanita itu adalah jalan harapan. Menunggu ia sabar pelanggan datang...

Terlihat tubuh yang tak begitu putih, baju minim merah merekah, sepatu tinggi dengan langkah yang tak mau kalah.
Tidak ketinggalan melekat ditangan sebatang rokok yang entah nikmat atau hanya untuk membuat senang.

Berjam-jam akhirnya seorang Bapak Tua datang,
Dengan motor "Raja"nya ia singgah digoda.
Mungkin rokok wanita itu habis, Bapak itu menawarkan dan dinyalakan sebatang.
Seolah mau menampakkan seksinya badan, wanita itu menghirup Dan menghembuskan lalu mulai bercakap-cakap lagi dengan pak Tua.

Lobby yang mudah, wanita itu beruntung. Malam akhirnya menampakkan berkah, yang tidak lagi diperdulikannya halal dan haram.

Senyumnya adalah Untuk Uang, gayanya bermaksud uang. Menggodanya pun demi uang.
Dan telanjang dengan hidung belang berakhir dengan uang.
Mungkin sedikit dihatinya yang semua tentang uang, karena sebenarnya baginya ia hanya perlu makan.




   Oleh: Andreas Ardi

Kamis, 09 Oktober 2014

Dewan yang Tak Lagi Mewakili

Dua produk hukum yang dihasilkan oleh lembaga yang sama namun beda periode itu tidak lagi mewakili seperti nama lembaganya Dewan Perwakilan Rakyat. UUD MD3  yang disahkan pada 8 Juli 2014 oleh DPR periode 2004-2009 Dan UU Pilkada yang disahkan pada 26 September 2014 oleh anggota DPR yang Baru saja dilantik menuai banyak Penolakan dari Rakyat. Bagaimana tidak, lembaga yang seharusnya mewakili Rakyat Malah




mengkibiri hak Rakyat Dan jauh dari asas keterwakilan Rakyat yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu negara. Disini saya menampilkan screenshot komentar teman-teman di media sosial yang mengungkapkan kekecewaan dan protes atas dua Undang-undang tersebut.